Dimuat Pontianak Post Kamis, 10 Maret 2005
Ganyang Malaysia: Ketika RI Konfrontasi Dengan Malaysia -2-
Sempat Jadi Target Mati Pasukan Iban
Dengan melanggar isi perjanjian Manila, Malaysia memperkeruh suasana. Presiden Sukarno gerah, ia lalu memutuskan hubungan diplomatik dengan Kuala Lumpur. Gerakan bawah tanah dilancarkan. Kompi I yang dipimpin Gatot Sandjoyo (77) terlibat di dalamnya.
Laporan Uray Ronald, Singkawang
SEBAGAIMANA dilansir 30 Tahun Indonesia Merdeka, rencana pembentukan Negara Federasi Malaysia sebenarnya mulai menggelinding 1961. Presiden Sukarno menentangnya dengan keras. Sukarno menganggap ini sebagai Proyek Neokolonialisme (Nekolim) Inggris yang membahayakan revolusi Indonesia. Di lain pihak, Sukarno justru menyokong berdirinya Negara Kesatuan Kalimantan Utara yang diproklamirkan di Manila oleh AM Azhari, seorang penduduk Brunei.
Selain Indonesia, pembentukan negara Malaysia juga ditentang Philipina. Sebab, secara historis dan yuridis, Sabah adalah milik Sultan Sulu yang disewakan pada Inggris. Akibatnya, ketiga negara bersitegang. Serangkaian pertemuan digelar untuk mencairkannya dan hampir berhasil. Namun ketegangan kembali meruncing ketika 9 Juli 1963, PM Malaysia Tengku Abdul Rahman menandatangani MoU dengan Inggris di London.
Mereka berencana membentuk Federasi Malaysia 31 Agustus 1963. Tak ingin perang, upaya diplomasi kembali ditempuh ketiga negara. Sejak Juli hingga Agustus 1963, dilangsungkan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Manila. Tiga dokumen dihasilkan dari KTT ini, Deklarasi Manila, Persetujuan Manila dan Komunike Bersama. Mengenai pembentukan Federasi Malaysia, ketiga negara sepakat untuk meminta PBB menyelidiki keinginan rakyat di daerah yang disengketakan.
Indonesia dan Filipina menyatakan akan menerima jika pembentukan Federasi Malaysia adalah pilihan rakyat setempat. Dari hasil kesepakatan itulah Sekjen PBB U Thant membentuk tim khusus untuk survey kehendak rakyat Sabah dan Sarawak. Tim ini dipimpin Michelmore seorang diplomat AS. Agustus 1963, misi tersebutpun dimulai. Namun, sebelum PBB secara resmi mengumumkan hasil investigasinya, Federasi Malaysia telah terbentuk 16 September 1963.
Indonesia kembali menentangnya dengan keras karena dianggap melanggar perjanjian Manila. Indonesia kemudian memutuskan hubungan diplomatik dengan Kuala Lumpur sehari setelahnya. Kata Gatot Sandjoyo, tak lama setelah itu, pemerintahan bayangan Kalimantan Utara dibentuk. Serangkaian gerakan bawah tanah untuk mewujudkan Kalut mulai mengalir. Bagaimana bentuk gerakan bawah tanah itu?
"Saya hanya prajurit, bukan orang politik, boleh dibuka nggak nih. Ini rahasia atau bukan?" Gatot balik bertanya. Komandan Kompi Pasukan Sukarela Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU) itu sempat ragu. Namun, akhirnya ia bersedia juga membeberkan rahasia yang selama ini dipendamnya sendiri. Menurutnya, pemerintahan bayangan Kalimantan Utara Perdana Menterinya adalah Azahari dari Brunei dan Menteri Pertahanannya Zaidi alias Sulaiman, warga Kuching Sarawak. "Kalau saya, TNKU," tukasnya.
Zaidi (Sulaiman), kata Gatot, adalah orang Sarawak yang mendapat pendidikan politik dari Ali Murtopo. Sementara Ali Murtopo adalah hasil didikan Bung Karno. Secara politik, Zaidi dibesarkan secara politik di Indonesia. "Waktu konfrontasi, Zaidi di Singkawang, Pontianak dan Jawa. Setelah konfrontasi selesai, dia kembali ke Kuching," jelas putra Jogja ini. Ternyata, Zaidi alias Sulaiman inilah yang menurut Gatot, setelah konfrontasi selesai justru membelot dari Indonesia dan menjadi Gubernur Sarawak Pertama.
Sekitar bulan Oktober atau September (Gatot lupa kapan pastinya), Menteri Pertahanan Kalimantan Utara, Zaidi tersebut duduk semeja dengannya di markas. Rumah mertuanya yang terletak di Kampung Baru Singkawang itulah yang menjadi markas. Zaidi, berhasil disusupkan dari Kuching oleh intel di bawah pimpinan Suyono. "Mereka lewat laut, Yono (Suyono) atas perintah Nasution dan Nasution atas perintah Sukarno. Mau dirikan Kalimantan Utara," bisiknya.
Berdasarkan perundingan antara dia dengan Zaidi, satu pleton di bawah pimpinannya lengkap dengan senjata diserahkan ke Suhaili, Tokoh Sibu. Suhaili ditugaskan untuk mengembangkan satu pleton tersebut menjadi satu kompi. Suhaili berhasil menyusup, tapi dalam perjuangannya dia ditangkap berikut pletonnya. Dalam gerakan bawah tanah itu, Presiden Sukarno juga merangkul warga dari etnis Dayak Iban.
"Orang Iban dikasih senjata dan perlengkapan, mereka digerakkan lewat Panglima Dagang (namanya Dagang, tokoh Dayak setempat), dari Bumbung untuk melawan Inggris," katanya. Namun, sebagian orang Iban yang lain juga dimanfaatkan Inggris untuk bertempur melawan pihak Indonesia. "Inggris pintar. Iban dikasih daging dan rokok oleh Inggris lalu disuruh melawan Indonesia," ungkapnya.
Saat itu, rimba Kalimantan masih begitu lebat dan ganas. Maklum tahun 1963. Tradisi "Ngayau" (memotong kepala musuh) oleh Iban masih marak. Bahkan, Sanjoyo pernah jadi "wanted dead" pasukan Iban yang ditunggangi Inggris tadi. Dia adalah target pertama dan Panglima Dagang target kedua. Siapa yang berhasil memenggal kepala keduanya akan mendapat imbalan ringgit. "Ini disiarkan oleh radio Malaysia, seluruh orang di perbatasan dengar," kata Gatot dengan nada tinggi, semangatnya bangkit.
Namun Kolonel Ryacudu (ayah Ryamizaard Ryacudu), pimpinannya, juga tak kalah akal. Gatot diperintahkan untuk memimpin kompi karena punya pengawal yang berkemampuan khusus. "Pengawal saya rata-rata anak muda dari Jatim, mantan gerilyawan saat menghadapi Belanda, Jepang dan Inggris. Ngerti ilmu pelangkahan, sirep, bagaimana orang supaya tidur dan nasinya bisa dicuri. Anjing jangan sampai ngonggong, dia juga ngerti. Yang paling berat, tapi waktu itu sangat perlu adalah ilmu halimunan, bisa tidak nampak," bebernya.
Ilmu khusus itu bukan untuk Inggris tapi untuk orang Iban. Iban dikenal cukup sakti. Orang asli pedalaman Kalimantan itu berkeliaran di dalam hutan tanpa sepatu dan bersenjatakan sumpit beracun. "Ketika mereka berjalan di dalam hutan lebat, daun pun tak bergerak, samasekali tak bersuara. Itu yang paling saya ngeri. Bukan Inggris, apalagi Tentara Diraja," katanya. "Kalau Inggris dan sekutu, intelijennya memang terkenal. Mereka juga menang perang dunia kedua.
Tentara Diraja, di mana sejarahnya dia, waktu patroli, habis makanan saja dia pulang." Perjuangan terus dilanjutkan, banyak prajurit yang meninggal di kedua pihak. Jenazah-jenazah patriot bangsa terus berdatangan ke Singkawang. Mereka berasal dari Kompi Diponegoro, Siliwangi, RPKAD dan lainnya. Rata-rata dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Bambu Runcing Singkawang.
Tanggal 3 Mei 1964, Presiden Sukarno memberikan komando pengganyangan Malaysia yang dikenal sebagai Dwikora (Dua Komando Rakyat) dalam pidatonya di depan Apel Besar Sukarelawan di Jakarta. Dwikora berisi, perhebat ketahanan revolusi dan bantu perjuangan revolusioner rakyat-rakyat Malaya, Singapura, Sabah dan Brunei untuk menggagalkan Negara Boneka Malaysia. Konfrontasi terhadap Malaysia terus bergulir hingga 1966. Bagaimana jika kita perang lagi dengan Malaysia? Secara fisik, katanya, dia tak mungkin lagi ikut bertempur. Namun secara moral, naluri nasionalisme dan patriotisme senantiasa bicara.
"Siapapun yang mengganggu keutuhan dan kedaulatan NKRI dan merobek-robek bendera merah putih, jelas kita hadapi," tegasnya berapi-api. "Leluhur kitapun dulu berjuang menumpas habis penjajahan. Yang penting siapapun, pokoknya kita hadapi. Nasionalisme, patriotisme, Bung Tomo kecil, Ngurah Rai kecil, bangkitkan itu, bangkit!!! Pak Bambang (SBY), masih diam. Jangan main-main Malaysia, fakta sejarah sudah cukup. Bung Karno waktu itu masih sabar dan Pak Bambang sekarang ini masih diam. Dia sih tidak apa-apa, tapi yang di belakangnya?" (*)
Sabtu, 09 Februari 2008
Sepenggal Kisah Konfrontasi dengan Malaysia
Sepenggal Kisah Konfrontasi dengan Malaysia
Tiga Rekan Seperjuangan Tewas di Jagoibabang
Ganyang Malaysia; Ketika RI Konfrontasi dengan Malaysia -1-
Tubuh boleh renta dan sakit-sakitan, namun kobaran semangatnya seolah tak pernah padam. Sebagai mantan Pejuang Dwikora, gurat-gurat keperkasaan dan tak kenal takut masih terlihat di wajahnya. "Kalau Tentara Diraja Malaysia, itu seperti krupuk bagi saya," katanya garang.
Laporan Uray Ronald, Singkawang
GATOT Sandjoyo (77) tengah duduk tak berbaju di kursi tamu rumahnya, kemarin siang. Dia tinggal di sepetak rumah sederhana Kompleks Perumnas Roban Singkawang. Ada warung nasi di halamannya. Dengan sunggingan senyum Pak Gatot menyambut kehadiran Pontianak Post. Menurut beberapa mantan perwira di Singkawang, dia adalah salah satu pejuang yang terjun langsung ke perbatasan Indonesia-Malaysia di zaman konfrontasi.
Dia juga salah satu ekponen Angkatan '45. Setelah berbasa-basi sejenak, sebuah kopor coklat, tua dan sedikit berdebu dikeluarkan dari laci lemarinya. Berbagai jenis dokumen bersejarah lalu dia keluarkan. SK-SK yang diterima semasa bertugas, piagam penghargaan dan ada sebuah medali. Sambil membolak-balik dokumen, Gatot Sandjoyo mulai bertutur. Dia dilantik menjadi Komandan Kompi Pasukan Sukarela Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU) Jumat 11 Oktober 1963.
Pelantikannya dilangsungkan di lapangan helikopter Singkawang dan disaksikan Danrem 121 Letkol Soegiyono. Dia lalu menunjukkan lembaran "Berita Atjara Timbang Terima" yang dilampiri daftar senjata, peluru dan nama 150 anggota kompi sebagai bukti. Mulai saat itu dia bertugas. Secara rahasia, di mess A dekat PLN Singkawang, Kolonel Ryacudu memerintahkannya untuk memimpin Kompi I Pasukan Sukarela. Kompi ini bertugas mendirikan Batalyon I operasi basis di antara Serikin dan Bauk.
Kompinya juga bertanggungjawab untuk mengibarkan bendera merah putih hijau (segitiga hijau) di Kalimantan Utara (Kalut). Tambahan segitiga berwarna hijau ini hanya bersifat sementara. Jika operasi berhasil, segitiga hijau akan dihilangkan dan yang tersisa hanya merah putih. "Tugas utama kami bukan tugas tempur. Saya jadi sempat bingung juga, kalau bukan tugas tempur kenapa kami dibekali bedil," katanya.
Pasukan yang dikhususkan untuk bertempur menurutnya adalah RPKAD. Inti dari tugas kompinya adalah memprovokasi warga setempat untuk melawan Inggris dan mendirikan Kalut. Malaysia, saat itu memang dibantu tentara Inggris. "Jadi, kami diperintahkan masuk ke Kalut dan mendirikan operasi basis di sana. Kami membangkitkan semangat pemberontakan warga. Batalyonnya bernama Kobra," jelasnya.
Berdasarkan laporan intelijen, dukungan warga Kalut untuk melawan Inggris cukup besar. "Foto Sukarno juga banyak orang sana yang nyimpan," ungkapnya. Di awal tugasnya, Gatot Sandjoyo mengaku sedikit pusing. Soalnya, di kawasan perbatasan hanya ada I Kompi yang beroperasi yaitu Kompi Gatot. "Diponegoro dan Siliwangi belum ada. Peluru pertama yang meletus di sekitar Jagoi Babang adalah peluru dari Kompi Gatot. Setelah itu, baru dari Diponegoro, Siliwangi dan RPKAD," tuturnya.
Meski tanpa dibayar, dia dan anak buahnya nekat memasuki kawasan musuh. Begitu masuk, tiga rekan sekompinya tewas ditembus timah panas. Ketiganya dimakamkan di Jagoi Babang dengan upacara yang sederhana. "Maksud saya, kalau sudah aman, mereka akan saya pindahkan ke taman makam pahlawan," katanya lirih. Perjuangan terus mereka lanjutkan, keluar masuk belantara Kalimantan yang ketika itu masih sangat lebat. Menurutnya, saat itu Tentara Diraja Malaysia samasekali tidak ditakuti. Musuh yang disegani adalah Inggris.
Sedangkan TNI AD, saat itu juga sedang dalam masa keemasan. Kabarnya, TNI AD adalah yang terkuat di Asia Tenggara. "Kalau Tentara Diraja Malaysia, itu seperti krupuk bagi saya. Tapi Inggris, senjatanya lengkap, ada teropong dan lainnya. Mereka sudah pakai helicopter, saya masih pake sampan," ujarnya. (bersambung)
Penduduk Sarawak 20 % WNI
WNI Capai 20 % Penduduk Sarawak
KJRI Kuching Resmi Dibuka
Kuching- Kemarin (3/10), Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Kuching resmi dibuka oleh Sekjen Deplu RI, Sujadnan Parnohadi. Diharapkan, dengan adanya KJRI, kerjasama antara pemerintah, masyarakat dan aparat dari kedua negara bisa lebih ditingkatkan. Selain itu, pelayanan dan perlindungan bagi WNI di Sarawak juga dapat lebih optimal. Menurut Sujadnan, tercatat sekitar 170 ribuan TKI berada di Sarawak.
Jika dikalkulasikan dengan jumlah anggota keluarga dari TKI tersebut, diperkirakan jumlah WNI yang berada di Sarawak mencapai sekitar 480 ribu orang. "Jumlah ini duapuluh persen dari total penduduk Sarawak," ungkapnya dalam acara peresmian itu. Mengingat kondisi tersebut, perhatian serius dari pemerintah dan keberadaan KJRI dinilai sebagai sebuah keniscayaan. Lembaga ini dapat membantu menyelesaikan permasalahan, memberikan pelayanan dan perlindungan bagi WNI di Sarawak.
"Hendaknya KJRI dimanapun dapat menjadi Rumah Indonesia yang ramah, melayani dan melindungi," harapnya. Sujadnan lantas memaparkan data yang diperoleh Deplu RI beberapa tahun terakhir tentang kondisi hubungan kedua negara. Jumlah WNI yang menghadapi masalah dan memerlukan bantuan KJRI pada 2002 sebanyak 9.002 orang. Jumlah ini meningkat menjadi 15.557 orang pada 2004 lalu. "Angka ini cukup besar. Jadi, KJRI memang harus ada," ujarnya.
Sedangkan di bidang perdagangan, data Deplu juga menunjukkan adanya surplus bagi Indonesia. Pada 2002 lalu, nilai ekspor Indonesia ke Sarawak tembus angka 238,9 juta ringgit. Pada 2003, jumlah itu meningkat menjadi 273 juta ringgit. Kerjasama yang erat antara kedua negara juga ditunjukkan dalam bentuk kerjasama Sosek Malindo. Kerjasama ini antara lain di bidang penangananan masalah penyelundupan, human trafficking, illegal logging dan pariwisata. "Masih banyak bentuk-bentuk kerjasama lain yang telah dilakukan. Kerjasama ini masih berpotensi untuk dikembangkan," katanya.
Sementara itu, Duta Besar RI untuk Malaysia, KPH Rusdihardjo SH menyebutkan, KJRI ini merupakan yang keempat di Malaysia setelah Penang, Johor Baharu dan Kota Kinabalu. Sebelumnya, di Kuching hanya ada Kantor Perwakilan KJRI yang merupakan cabang dari KJRI Kota Kinabalu. Proses administratif pembentukan KJRI ini, menurutnya telah memakan waktu selama dua tahun yaitu sejak kunjungan Presiden RI Megawati ke Malaysia pada 2003 lalu.
"Persetujuan resmi dari Pemerintah Malaysia baru pada tahun 2005," ungkapnya. Adanya KJRI dinilai dapat mendorong adanya peningkatan dan perlindungan bagi WNI. Di samping itu, ini juga membuka peluang peningkatan perdagangan, investasi dan kerjasama baru antara Indonesia dan Malaysia khususnya antara Sarawak dengan Kalbar dan Kaltim yang berbatasan langsung. Keberadaan KJRI menurutnya akan sangat membantu mencegah dan menyelesaikan permasalahan WNI.
Karena itu, ia mengimbau kepada seluruh WNI yang berada di Sarawak untuk menghubungi KJRI jika menghadapi berbagai permasalahan. Sebaliknya, Rusdihardjo juga meminta agar WNI yang berada di Sarawak lebih sadar akan aturan pemerintah setempat. Hal ini untuk menghindari berbagai masalah yang dapat menimbulkan kesulitan seperti hilangnya legalitas keberadaan, kewarganegaraan dan status kerja. Ia juga menyampaikan, peningkatan status dari Kantor Penghubung menjadi KJRI akan lebih meningkatkan interaksi sosial masyarakat Indonesia karena akan ada pejabat yang bertanggung jawab dalam bidang sosial budaya.
Ketua Tim Persiapan Pembukaan KJRI Kuching, Rubaya Thalib, juga menyatakan hal yang senada. Menurutnya, peningkatan status dari sekedar perwakilan menjadi sebuah KJRI sangat urgen. Hal ini mengingat semakin pesatnya hubungan bilateral antara Indonesia dan Malaysia di segala bidang. "Adanya KJRI ini sudah sangat dinanti-nantikan oleh WNI yang ada di sini," katanya.
Acara peresmian yang dihadiri Gubernur Kalbar Usman Ja'far dan beberapa pejabat teras Malaysia itu ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Sekjen Deplu RI, Sudjadnan Parnohadi dan diiringi musik tradisional Indonesia.
Mengheningkan Cipta
Peresmian KJRI mustinya disambut dengan gembira oleh segenap hadirin. Sebaliknya, acara itu diwarnai dengan mengheningkan cipta yang dipimpin Sudjadnan. Hal ini terkait dengan tragedi bom bali pada Sabtu (1/10) malam lalu. Insiden yang menelan korban sekitar 26 jiwa dan ratusan luka-luka itu masih menyisakan duka yang mendalam. Mengheningkan cipta ini dimaksudkan sebagai bentuk belasungkawa dan ucapan doa kepada para korban beserta anggota keluarganya. Dari informasi terakhir yang diterima Deplu, tidak ada Warga Negara Malaysia yang turut menjadi korban dalam peristiwa tersebut.(rnl)
Menjenguk Serambi "Depan" Negeri 3
Menyusuri Pergeseran Patok Perbatasan Kalbar-Sarawak (3)
Patok Awal Berada di Tengah Desa Gumbang
Masyarakat Siding sadar bahwa patok perbatasan telah bergeser masuk ke wilayah mereka. Namun, masalah itu terpinggirkan karena kekerabatan dan ketergantungan dengan pihak Malaysia yang masih tinggi. Seberapa banyak wilayah kita yang dicaplok Malaysia?
Laporan Uray Ronald, Bengkayang
MASIH ada silang pendapat antara Dandim 1202/Singkawang, Letkol Inf Putro Lelono dengan sesepuh Desa Siding dalam penentuan patok batas awal. Menurut Putro, Selasa (15/3) di Batu Aum, patok awal yang menunjukkan titik nol Indonesia terletak di Batu Aum, 7 km dari Desa Siding. Namun, pantauan Pontianak Post di lokasi, terdapat dua patok Tipe D (jarak antarpatok 200-300 meter) lagi yang menjorok ke kawasan Siding.
Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran patok oleh pihak Malaysia. Jika diukur dari patok Batu Aum, Malaysia telah mencaplok sejauh 600 meter. Kata Putro, penggeseran itu dilakukan oleh warga Gumbang, Serikin Malaysia. Motivasi warga mulanya ingin mengambil kekayaan alam Indonesia berupa kayu. Namun setelah kayu dibabat habis, mereka kemudian berladang dan berkebun.
Menurut analisisnya, hal ini karena warga Gumbang Malaysia takut dikenai pajak. Penggeseran patok itu dijadikan alat legitimasi mereka dalam melakukan kegiatannya. Pendapatnya berbeda dengan yang diungkapkan Ketua Adat Desa Siding, Asmudin (56). Sebagaimana penuturan orang-orangtua yang didengarnya, patok awal sebenarnya berada di tengah Kampung Gumbang Distrik Serikin Malaysia. Jarak antara Kampung Gumbang dengan Batu Aum sekitar 2 km.
Kalau Asmudin benar, berarti patok batas telah bergeser sekitar 2,6 km ke arah Indonesia. Sedangkan patok di Batu Aum, yang diklaim Dandim sebagai patok awal, menurutnya adalah patok kedua. Patok tersebut, kata Asmudin, merupakan hasil kesepakatan antara Belanda (penjajah Indonesia) dan Inggris (penjajah Malaysia). Namun, dia tidak tahu tahun berapa kesepakatan tersebut dibuat. Kesepakatan itu dianggap belum sah karena ketika itu, Sultan Sambas Muhammad Syafiuddin II tidak setuju patok digeser.
Awalnya, penggeseran itu adalah permintaan Kerajaan Sarawak kepada Kerajaan Sambas (Indonesia) yang diprakarsai kedua penjajah tadi. "Sultan Sambas tidak mau memberikan tanahnya, tapi dia datang kesini sebagai saksi, beliau naik ke bukit ditandu para pengawal," tutur laki-laki yang ramah itu. Kerajaan Serawak meminta tanah se-“kulit kerbau”, tapi ditolak Sultan Sambas. Sekulit kerbau adalah kiasan orang zaman dulu. “Panjangnya kita tidak tahu. Pokoknya bagaimana kalau kulit kerbau itu dijadikan tali, sepanjang itulah kira-kira,” katanya. Setelah ditolak Sultan Sambas, kembali diajukan permintaan se-kulit kambing. Lagi-lagi permintaan itu ditolak.
Namun, karena kedua kerajaan di bawah penjajahan, maka kesepakatan tetap dibuat oleh kedua penjajah tadi. Nimrod (32), Kepala Dusun Paup Desa Siding dan Jihim (54) juga mengatakan kalau patok awal memang berada di tengah Kampung Gumbang. Kata Jihim, yang bersekolah SD di Gumbang sejak 1960-1963, dia pernah melihat sendiri dan diberitahu gurunya, Aseng bahwa patok yang dibangun Belanda dan Inggris terletak di Kampung Gumbang. Warga Siding yang belanja di Gumbang juga menemukan bukti itu.
Di dinding rumah Pak Acong (warga Gumbang) bagian dalam, ada tulisan larangan masuk karena merupakan kawasan Indonesia. Tulisan itu berwarna merah dan dipasang sebagai tanda agar warga Gumbang tidak melanggar kawasan Indonesia. Menurut warga, tulisan itu sengaja dipindah dan seolah-olah disembunyikan agar warga Indonesia tidak tahu bahwa sebagian dari kawasan itu sebenarnya milik Indonesia yang telah dicaplok. Bagaimana tanggapan warga Siding atas hal itu?
Sebagian besar menyikapinya dengan dingin. Alasan mereka, patok itu digeser ketika mereka belum lahir. Selain itu, mereka menyadari keterbatasannya dan tak ingin cari masalah. “Sampai di mana sih kemampuan kita, lebih baik tidak usah. Nanti khan ada dari pemerintah yang datang mengurusnya,” kata Asmudin. Namun pada dasarnya, warga Siding tetap keberatan soal penggeseran patok tersebut. Jika saja penggeseran itu dilakukan saat ini dan sepengetahuan warga, mereka jelas akan menolak. “Itu harus kita pertahankan,” tegasnya.
Meski memiliki ibu warga Malaysia, rasa nasionalismenya tetap tinggi. Camat Siding, B Petrus Diaz STP juga mengakui bahwa masyarakatnya tidak terlalu mempermasalahkan penggeseran patok tersebut. Salah satu penyebabnya adalah hubungan dan ketergantungan dengan warga Gumbang yang masih tinggi. Hal itu membuat warga serba salah. Tapi, sebagai aparat pemerintah, dia tetap memandangnya dari aspek NKRI. Dia juga meyakini bahwa patok awal memang berada di Kampung Gumbang, bukan Batu Aum.
Karena itu, dia menyampaikan laporan tertulis 7 Pebruari lalu ke Bupati Bengkayang. Laporannya kemudian diteruskan ke Gubernur Kalbar dan ditindaklanjuti ke pusat. Baginya, penggeseran patok ini jelas-jelas merugikan masyarakat Siding. "Lahan Siding akan berkurang. Saat ini memang belum terasa, tapi sekian tahun kedepan akan timbul masalah. Anak cucu kita akan kehabisan lahan," katanya.
Sebagai solusi, dia menyarankan agar pemerintah baik daerah maupun pusat dapat membuka isolasi daerah. Bagaimana agar wajah Siding paling tidak sama dengan kecamatan lain. Dengan demikian, ketergantungan masyarakat dengan negeri jiran dapat dikurangi secara perlahan. Selain itu, pos-pos penjagaan juga dinilainya perlu agar penggeseran patok tidak terjadi lagi. Dari aspek pertahanan, dia berharap pemerintah mengadakan program transmigrasi di kawasan-kawasan sekitar perbatasan.
“Daripada tanahnya tadi tidak bertuan,” tukasnya. Petrus berpendapat, jika banyak penduduk di kawasan perbatasan, warga jiran takkan berani mencaplok wilayah Indonesia. Sementara itu, Dandim 1202/Singkawang, Letkol Inf Putro Lelono menyarankan agar instansi terkait dari kedua negara datang ke lokasi untuk menentukan di mana letak koordinat patok yang benar. Sebab, referensi adat dinilainya tidak dapat dijadikan acuan yang punya kekuatan hukum.
"Mereka (masyarakat Siding dan Gumbang) punya adat, mereka biasa menyelesaikan masalah dengan musyawarah adat, tapi itu tidak bisa kita jadikan referensi," tegas dia. "Yang bisa adalah kesepakatan antara kedua negara ini". Solusi ini menurutnya sudah pernah ditempuh ketika menyelesaikan masalah serupa di Desa Aruk Kecamatan Sajingan Besar Kabupaten Sambas, 21 Pebruari lalu. Ketika itu, kesepakatan dibuat antara Muspida Sambas, Dinas Topografi Pusat dan pihak Malaysia.
Setelah ada kesepakatan dalam penentuan titik nol tersebut, lanjut dia, pihak Malaysia konsisten melaksanakannya. "Ada bangunan Malaysia yang ternyata masuk ke kawasan Indonesia disegel oleh petugasnya dan tidak dibolehkan beroperasi lagi. Kita harapkan di sini juga demikian," timpalnya. Dalam menyelesaikan sengketa perbatasan ini, menurutnya Dinas Topografi Pusat juga pernah melaksanakan operasi perbatasan 2004 lalu. Operasi tersebut dilaksanakan di Putussibau.
"Mereka tiga sampai empat bulan di sana dan sekarang masalah patok di sana sudah bagus". Diharapkan tahun depan, operasi yang sama juga dilaksanakan di kawasan Kodim 1202 (Sambas, Singkawang dan Bengkayang).(habis)
Menjenguk Serambi "Depan" Negeri 2
Menyusuri Pergeseran Patok Perbatasan Kalbar-Sarawak 2
Geser Patok untuk Perluasan Ladang Berpindah
Hubungan kekerabatan dan saling ketergantungan antara masyarakat Siding dan Gumbang, Serikin Malaysia telah terjalin sejak zaman nenek moyang. Mereka berasal dari satu suku yaitu Dayak Bedayuh. Bahkan, banyak diantara warga Siding yang punya keluarga di Gumbang.
Laporan Uray Ronald, Bengkayang
DALAM ekonomi, warga Siding sangat tergantung pada Gumbang. Karena akses untuk ke wilayah Indonesia terbilang jauh dan mahal. Karena itu mereka lebih memilih berbelanja ke sana, tentunya dengan Ringgit. Sebagian besar kebutuhan mereka didapatkan dari Malaysia. Warung-warung di Siding sendiri, juga memberlakukan dua mata uang, Rupiah dan Ringgit.
Ketua Adat Siding, Asmudin (56) mengatakan, jika tak punya Ringgit, mereka bisa menukarnya lebih dulu di Gumbang. Perjalanan ke Gumbang, dapat ditempuh dengan berjalan kaki turun naik bukit selama dua jam. Sebaliknya, jika ke Seluas, mereka harus merogoh kocek ratusan ribu rupiah, menggunakan ojek ataupun speedboat. "Kalau belanja hanya satu pikulan, lebih baik ke Gumbang. Tapi kalau belanja sampai satu perahu, baru ke Seluas," katanya.
Menurut dia, warga Gumbang juga baik pada mereka. Jika mereka kesana, dilayani dengan ramah, diajak berbincang dan disuguhi minuman dan makanan. Bahkan, para petugas di sana juga baik pada mereka kecuali jika mereka berbuat salah. Biasanya, warga Siding ke sana sambil membawa hasil-hasil pertaniannya untuk dijual. Kemudian, mereka menukarnya dengan berbagai barang kebutuhan.
Ketika Pontianak Post bersama rombongan Dandim 1202/Singkawang Letkol Inf Putro Lelono meninjau patok batas di sana, warga Siding sempat risau. Kata Kepala Desanya, Peter (32), warga takut hal ini menimbulkan kesalahpahaman dengan warga Gumbang. Akibatnya, mereka bisa dipersulit jika nanti berbelanja ke sana. Kekerabatan warga Siding dan Gumbang juga dekat. Mereka dari suku yang sama yaitu Dayak Bedayuh.
Cuma, bahasa mereka berbeda. Namun, banyak warga Siding yang mengerti bahasa Gumbang dan sebaliknya. "Kalau Gumbang, mereka campur suku Iban," jelas Maryanto (25), Plt Kasi Trantib Kecamatan Siding. Selain itu, banyak diantara warga Siding yang menikah dengan warga Gumbang. Asmudin juga memiliki ibu asal Gumbang. Bahkan, kini seorang adiknya tinggal di sana. Kenapa dia tidak tinggal di sana?
"Jiwa saya jiwa Indonesia. Biarlah adik saya di sana, jiwanya memang cocok di Malaysia," jawabnya. Ada lagi yang memiliki paman, sepupu dan kakak di sana. Peter, Kepala Desa Siding juga mengatakan, jika dia ingin tinggal di Gumbang, tak ada halangan baginya. Soalnya, dia juga banyak famili di sana. Bahkan di zaman konfrontasi tahun 1960-an, hubungan antara Siding dan Gumbang menurut Asmudin yang ketika itu masih bujangan, juga tetap baik.
"Perang itu masalah lain, itu antara pemerintah, kami tak perlu ikut. Belanja tetap belanja, yang perang silakan perang," katanya. Hanya saja, ketika ingin melewati patok batas, mereka kadangkala dilarang aparat di sana. Tapi, kemudian akan datang pemilik toko di Gumbang yang menjamin bahwa mereka hanya berbelanja, bukan untuk keperluan spionase. "Barulah kita dibolehkan masuk, timbang barang dan belanja di toko dan pulang. Tapi ini hanya untuk orang Siding saja," tuturnya.
Generasi muda Siding juga katanya banyak yang bekerja di Kuching, Malaysia. Sebagian dilengkapi dokumen berupa paspor tapi yang lain tidak. Itu tak apa-apa. Hal ini karena banyak memiliki kerabat di sana. "Contohnya saya, punya ibu di sana, siapa yang mau macam-macam," tukasnya. Dari sudut pandang Gumbang, wilayah Siding juga sangat bermakna. Mereka berladang, berburu dan mengambil kayu di wilayah Siding secara turun temurun. Sebagian besar rumah di Gumbang asal kayunya adalah dari Siding.
Di Gumbang sendiri memang sudah tidak memiliki kayu. Karena itu, tak heran jika bukit-bukit di Siding kini sepi dengan jenis-jenis kayu komersil seperti meranti atau ulin. Kenapa orang kampung Siding tidak marah? "Bagaimana kita mau marah, mereka hanya untuk pakai saja. Itupun memang sudah dari zaman dulu," katanya. Apalagi, sebelum berladang, berkebun atau mengambil kayu, utusan Gumbang dulunya sering datang ke Siding untuk memohon izin secara baik-baik.
"Kalau kita ketemu mereka yang sedang berburu, biasanya kitapun makan hasil buruan sama-sama. Karena mereka merasa ngambilnya di Indonesia, mereka tak ragu membagi buruannya jadi dua. Pokoknya, masyarakat Gumbang dan Siding belum pernah ada masalah," sebutnya. Apalagi, orang Siding memang tidak mampu memanfaatkan kawasan di sekitar perbatasan yang luas. Kalau untuk mengambil kayu, mereka akan kesulitan mengangkutnya. Untuk berladang, jarak sekitar dua jam itu juga dianggap terlalu jauh. Kawasan itu praktis terbengkalai.
Sebaliknya dari Gumbang, jaraknya relatif dekat, hanya sekitar setengah jam jalan kaki. Sampai saat ini, kawasan Indonesia yang dipakai orang Gumbang berladang mencapai radius satu setengah jam jalan kaki dari Gumbang. Bahkan, sekarang sebagian kawasan itu telah ditanami dengan tanaman keras seperti Tengkawang. Tak hanya itu, patok perbatasan juga telah bergeser masuk ke Indonesia. Kata Dandim 1202/ Singkawang, Letkol Inf Putro Lelono, latar belakangnya agar ada legitimasi bagi mereka untuk mengusahakan lahan di kawasan itu.
"Mereka menggeser patok supaya bisa bebas dan tidak kena pajak. Dengan menggeser ini mereka juga jadi lebih tenang," jelasnya. Masalah penggeseran patok menurut Putro, telah terjadi sejak belasan tahun lalu. Terkait hal tersebut, pihaknya telah melaporkan ke danrem dan diteruskan ke pangdam. Dia menyangkal adanya indikasi rekayasa pihak Pemerintah Diraja Malaysia dalam penggeseran patok tersebut. "Menurut saya pemerintahnya juga belum tahu. Ini ulah masyarakat saja yang ingin memperluas ladang," katanya. (bersambung)
Menjenguk Serambi "Depan" Negeri 1
Desa Siding Kecamatan Siding Indonesia (Bawah), bandingkan dengan Desa Gumbang Malaysia (Atas)
Menyusuri Pergeseran Patok Perbatasan Kalbar-Sarawak -1-
Di Wilayah RI, Celcom Welcomes You to Malaysia...
Hampir 60 tahun negeri ini merdeka. Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalbar masih terisolir. Ibarat yatim piatu, hangatnya pelukan ibu pertiwi seakan tak pernah mereka rasakan. Kelihatan begitu kontras dengan tetangga mereka, Kampung Gumbang, Distrik Sirikin, Sarawak, Malaysia.
Laporan Uray Ronald, Bengkayang
BERGESERNYA patok perbatasan Kalbar-Sarawak di Desa Siding (Kalbar) dan Kampung Gumbang (Sarawak) sempat menjadi perhatian berbagai kalangan. Apalagi persoalan itu mencuat ditengah klaim Malaysia atas Blok Ambalat, Kaltim. Dephan, TNI-AD dan unsur terkait turun ke lapangan mengecek langsung kebenaran informasi itu. Desa Siding, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang pun menjadi sorotan.
Namun tak banyak yang tahu bagaimana kondisi kehidupan di desa nun jauh di perbatasan sana. Untuk mencapai kawasan ini bisa dibilang sulit. Dari Kecamatan Seluas --kecamatan yang bisa dihubungi dengan transportasi darat dari Kota Bengkayang-- kita harus menempuh perjalanan selama 4 hingga 5 jam dengan speedboat 15 PK. Bahkan, perjalanan akan lebih sulit jika musim kemarau.
Sebab, Sungai Kumba yang menghubungkan kedua daerah tersebut airnya kering. "Speed sering kandas dan mau tidak mau kita harus turun dan mendorongnya. Perjalanan jadi lebih lama," kata Camat Siding, B Petrus Diaz STP. Belum lagi ongkos yang dibutuhkan untuk menumpang speedboat. Rata-rata, warga harus merogoh kocek sebesar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu. Mereka juga punya akses jalan darat.
Namun, kondisinya juga sangat memprihatinkan. Jalan itu adalah jalan tanah eks HPH PT Yamaker. Dari Jagoi Babang menuju Siding dapat dicapai selama 2 jam perjalanan dengan ojek sepeda motor. Waktu dua jam ini hanya bagi yang mahir dan berpengalaman melaluinya. Bagi pemula atau yang amatir, perjalanan akan jauh lebih lama. Apalagi di musim hujan. Jalan akan menyerupai "bubur tanah kuning" yang sangat licin.
Jalur transportasi inilah yang ditempuh Pontianak Post bersama Dandim 1202/Singkawang, Letkol Inf Putro Lelono meninjau patok batas. Jalan tanah tersebut berbatu-batu dan berlubang. Di kiri dan kanannya ada jurang sehingga membuat miris orang yang tak biasa melewatinya. Kadang harus menanjak bukit terjal. Jika naik sepeda motor, kalau bukan menggunakan gigi satu, tidak akan bisa. Turunan akan lebih parah lagi. Rem harus benar-benar dipersiapkan kalau tak ingin masuk jurang.
Tak hanya itu, juga harus melalui jembatan yang sudah rusak. Ada jembatan hanya terbuat dari sebatang kayu bulat berukuran sekitar 30 cm yang permukaannya "sedikit" diratakan. Sepanjang perjalanan, hanya bisa melihat kondisi hutan yang telah dieksploitasi besar-besaran. Hanya sedikit pohon komersil yang tersisa, itupun kecil-kecil ukurannya. Ongkos ojek ke sana sekitar Rp150 ribu. Ketika sampai di puncak salah satu bukit, ponsel Pontianak Post sempat berbunyi.
Celcom, operator satelit yang beroperasi di Malaysia mengirim pesan singkat. "Celcom welcomes you to Malaysia...", demikian bunyi pesannya. Hal ini menandakan bahwa hubungan telekomunikasi Malaysia lebih mudah diakses oleh kawasan ini dibanding milik Indonesia. Namun, setelah perjalanan dilanjutkan, sinyal kembali menghilang. Kecamatan Siding yang dimekarkan sesuai Perda Kabupaten Bengkayang Nomor 26/2003 itu juga belum punya listrik.
Hanya beberapa warga yang mampu membeli mesin diesel untuk penerangannya. Itupun tidak dipakai sepanjang malam dan juga tidak tiap hari. Hal ini karena bahan bakar mahal. Sebagian besar penduduk masih menggunakan pelita. Radio dan televisi milik masyarakat pun masih terbatas. Siaran yang mereka tangkap masih milik Malaysia. Hal ini membuat masyarakat setempat cenderung "Malaysia Minded".
Penunjuk waktu pun mereka setel sesuai waktu Malaysia. Apalagi ketika anak-anak muda yang bekerja di negeri jiran kembali yaitu sekitar bulan Juni. Mereka pulang untuk ikut memeriahkan gawai (pesta rakyat setelah panen). Suasana Malaysia akan sangat kental di sana. Bahasa yang akan didengar hanyalah Bahasa Malaysia. Ada delapan desa di kecamatan ini. Hubungan antardesa sangat sulit. Sekitar 90 persennya hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki.
"Yang terdekat 2 jam jalan kaki tanpa istirahat dan yang terjauh lebih dari satu hari menggunakan jalan tikus yaitu ke Desa Sungkung," ungkap Petrus. Sedangkan untuk ke Gumbang Serikin Malaysia, perjalanan menggunakan jalan setapak cuma 2 jam turun naik bukit. Jauh lebih dekat dan murah dibanding ke Seluas. Bahkan, Kecamatan Siding yang pegawainya cuma enam orang juga belum punya kantor camat.
Selama ini, mereka menumpang di kantor desa. Dengan personil yang minim itu mereka kesulitan untuk memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakatnya. Dari aspek pendidikan, mereka hanya punya sembilan SD dan tak satupun SMP. Jumlah guru pun sangat terbatas. Misalnya di SD 01 Siding, gurunya hanya empat orang. Satu guru sekaligus menangani dua kelas di jam yang sama. Karenanya, tak heran jika banyak generasi mudanya yang putus sekolah.
Jika ingin melanjutkan, mereka harus keluar daerah, ke Seluas atau Bengkayang. Hal ini butuh biaya mahal sementara penduduk yang rata-rata petani kebanyakan kurang mampu. Rata-rata, setamat SD mereka langsung bekerja ke Malaysia. Minimnya sarana dan prasarana itulah menjadi alasan kawasan ini dimekarkan. Dengan ini, ke depan pemkab diharapkan dapat membuka akses dan memberikan pelayanan yang lebih kepada masyarakat. Dari delapan desa di Siding, tiga diantaranya berbatasan langsung dengan Malaysia, yaitu Desa Siding, Sungkung dan Tangguh.
Di perbatasan Malaysia sendiri, kondisinya sangat jauh berbeda. Transportasinya sangat lancar, jalan aspal mulus yang lebarnya sekitar 7 meter siap menghubungkan antar desa dan kota. Selain itu, sudah ada bus angkutan (van) yang dapat mengangkut enumpang. Misalnya di Kampung Gumbang yang berbatasan langsung dengan Desa Siding. Berbagai jenis kebutuhan masyarakat juga telah tersedia dengan lengkap. Menurut Maryanto, Plt Kasi Trantib Kecamatan Siding, jalan mulus di Gumbang membuatnya segan untuk membuang sampah.
Di sana juga tersedia sebuah generator besar yang menyuplai kebutuhan listrik bagi seluruh masyarakat. Karena itulah, masyarakat Siding lebih senang berbelanja ke Kampung Gumbang Distrik Serikin, Negara Bagian Sarawak Malaysia ketimbang ke Seluas. Dari Siding, mereka hanya butuh sekitar dua jam jalan kaki tanpa biaya berarti. Mereka tak perlu membuat Pas Lintas Batas karena melalui hutan. Dari Gumbang, mereka bisa jalan-jalan ke Bauk dan Kuching dengan bebas menggunakan angkutan ben.(bersambung)
Sarawak Regatta 2006
Dimuat Pontianak Post, 5 September 2006
Sempat "Dipinjam" Perusahaan Shell Malaysia
Tim Dayung Sambas dalam Sarawak Regatta 2006 (2)
Kebolehan Tim Dayung Sambas sudah cukup dikenal di Malaysia. Sebab, tim ini telah berulang kali meraih sukses dalam lomba-lomba internasional. Kemenangan kemarin menambah panjang deretan prestasi yang telah diukir Tim Sambas. Keharuman nama tim ini begitu menggoda sehingga banyak yang jatuh cinta.
Catatan Uray Ronald, Kuching
Dalam Sarawak Regatta 2006, Tim Dayung Sambas sebetulnya hanya boleh ikut dalam satu lomba yaitu Lomba Sampan dengan 20 Pendayung untuk Kategori Pelancong 2,7 kilometer. Namun, karena dinilai punya kemampuan lebih, ada pihak perusahaan swasta di Malaysia yang berminat "memakai" tim ini untuk ikut lomba. Perusahaan yang tergoda itu adalah Shell. Shell "meminjam" Tim Sambas untuk berpartisipasi dalam lomba Kategori VIP dan Perpaduan Tingkat Lokal.
Perjanjiannya, jika menang, 60 persen hadiah akan diserahkan untuk Tim Sambas dan sisanya untuk Shell. Perjanjian itu disepakati oleh kedua pihak. Lomba kategori ini diikuti belasan perahu milik perusahaan-perusahaan swasta di Malaysia. Jumlah pendayung yang dibutuhkan yaitu sebanyak 20 orang dan trek yang ditempuh sepanjang 2,7 kilometer. Warga yang sejak pagi memadati waterfront dan pinggiran sungai menatap lekat ke arah sungai menunggu lomba dimulai.
Sementara di ujung sana, tepat di garis start, belasan perahu tengah bersiap sedia. Begitu tanda start dibunyikan, perahu-perahu itu melaju kencang. Dari kejauhan, tampak percikan air yang muncrat ditampar dayung. Kayuh aneka warna itu terlihat berkilat-kilat ditimpa sinar matahari. Tim Shell bersaing ketat dengan Tim Zecon dan saling susul-menyusul, sementara tim lainnya ketinggalan jauh di belakang.
Sekitar seratus meter dari garis finish, Tim Shell masih memimpin. Namun kemudian, secara berangsur-angsur, Tim Zecon berhasil mendekat. Perahu itu tampak begitu rapat dengan perahu Tim Shell. Semakin dekat dengan garis finish, para pendayung di kedua perahu itu kian bersemangat. Wajah mereka kelihatan memerah dan dayung pun diayunkan sejadi-jadinya. Akhirnya, Tim Zecon berhasil mengungguli Tim Shell. Ada ekspresi kurang puas di kalangan official Tim Sambas.
"Padahal kita sudah sempat memimpin," sesal Mubin, anggota tim. Namun, peringkat kedua dipandang tak terlalu mengecewakan. Menurut Pangeran Ratu H Winata Kesuma, prestasi yang diukir Tim Sambas kali ini sudah sangat menggembirakan. Selain juara kategori pelancong, tim ini juga menjadi juara kedua untuk kategori VIP, meskipun menggunakan "bendera" Shell. Hal tersebut membuktikan bahwa Sambas punya potensi yang tinggi di bidang olahraga tradisional dayung.
Pemangku Adat Kesultanan Sambas itu juga menyatakan sangat berterima kasih atas dukungan dan dorongan yang telah diberikan pemda kabupaten dan propinsi sehingga Tim Sambas bisa berbuat banyak di mata internasional. Ia berharap, pemerintah dapat terus memberikan dukungan dan perhatiannya agar Tim Dayung Sambas bisa kembali menorehkan tinta emas dalam event-event lain.
"Ini potensi besar yang kita miliki dan bernuansa adat dan budaya tradisional kita. Jadi, harus kita pelihara terus. Dalam hal ini kita butuh dukungan dan perhatian pemerintah. Masalahnya, kadang-kadang kita hanya mengandalkan semangat dari kalangan pengurus dan atlet saja, tanpa ada dukungan fasilitas yang memadai dari pemerintah," katanya didampingi Ketua Tim, Mul'am Husairi.
Sebagai Pemangku Adat sekaligus Sultan Sambas, ia menyatakan akan tetap komit melestarikan adat dan budaya. Pandangannya hampir sama dengan yang diungkapkan Tobias Ranggie SH, Anggota DPRD Kalbar yang ikut dalam rombongan. Pemerintah, kata Tobias, perlu memperhatikan potensi besar seperti ini. Tim Sambas telah mengharumkan nama daerah dan bangsa. "Selain sudah juara satu, tim kita juga dipinjam oleh perusahaan di Malaysia. Ini adalah hal positif. Mereka saja yakin dan percaya dengan kemampuan kita, masa' kita sebagai pemilik justru sebaliknya. Janganlah disia-siakan," ujar dia.
Kalau pemerintah ingin mempromosikan daerahnya keluar negeri, kata Tobias, seharusnya pemerintah memberi perhatian yang lebih terhadap potensi-potensi yang ada. Selain dayung yang berhasil mengangkat nama baik daerah dan negara, cabang olah raga lain juga dinilai banyak yang potensial. "Kalau ada event di tempat kita, biasanya dana untuk panitia lebih besar daripada dana untuk pembinaan atlet," katanya prihatin.
"Bagaimana mau berprestasi baik? Harusnya, atlet-atlet yang berprestasi mendapat perhatian dan penghargaan yang lebih". Di sisi lain, Sarawak Regatta dipandang bisa menjadi contoh bagaimana cara pemerintah Malaysia menarik wisatawan. Kalbar juga dapat menggelar event serupa dan diyakini akan lebih baik lagi mengingat Kalbar kaya akan sungai dan atlet dayung. "Persoalan kita selama ini biasanya adalah dana. Tetapi, kalau semua bisa terprogram dengan baik, saya kira masalah ini bisa teratasi".
Kiprah Tim Dayung Sambas memang patut diacungi jempol. Usai Sarawak Regatta 2006, tim ini juga diundang secara resmi untuk berpartisipasi dalam lomba serupa di Singapura pada November 2006 dan Pebruari 2007 mendatang. Undangan ini disampaikan Manajer Tim Dayung Singapura, Azlam kepada Pangeran Ratu H Winata Kesuma beserta Ketua Tim Dayung Sambas, Mul'am Husairi saat acara ramah tamah di Astana Gubernur Sarawak, Sabtu (2/9) lalu. Akankah tim ini kembali mengharumkan nama daerah dan negara?(habis)
Kemenangan Sambas
Menang Tetapi Nyaris Gagal Bertanding
Tim Dayung Sambas dalam Sarawak Regatta 2006 (1)
Dengan semangat membara, satu persatu anggota Tim Dayung Sambas menaiki perahu yang diberi nama Dayang Maimunah, kemarin siang. Tepuk tangan para official dan penggemar dari kalangan warga lokal terdengar mengiringi. Tak berapa lama, Dayang Maimunah sudah terlihat meluncur deras menuju garis start, bersiap untuk lomba.
Catatan Uray Ronald, Kuching
"Bagi tim dengan nombor flag empat, anda semua baru boleh ikut lumba kalau menyertakan lima orang pengayuh wanita dan lima belas orang pengayuh lelaki," suara dari mikrofon panitia tiba-tiba terdengar ketika Tim Dayung Sambas sudah bersiaga di garis start. Suara itu terdengar begitu mengejutkan. Ekspresi kekecewaan seketika muncul di wajah seluruh anggota tim dan official, terlebih lagi Penanggung Jawab Tim, Pangeran Ratu H Winata Kesuma serta Ketua Tim, Mul'am Husairi.
Betapa tidak, dalam undangan yang diterima Tim Sambas beberapa waktu lalu, sama sekali tak mencantumkan ketentuan tersebut. Akibatnya, anggota tim yang dibawa semuanya adalah laki-laki. Resah dan gundah menyatu dalam hati para official karena keputusan panitia tadi bermakna bahwa Tim Sambas tak akan bisa bertanding karena tidak memenuhi syarat.
Sedianya, hari itu Tim Sambas akan berlaga dalam Lomba Sampan Kategori Pelancong, Sarawak Regatta 2006 untuk sampan dengan 20 pendayung. Panjang trek dalam lomba ini yaitu sejauh 2,7 kilometer. Dari kejauhan, Dayang Maimunah terlihat meluncur kembali ke pangkalan karena merasa "terusir" dari garis start. Menurut panitia, ketentuan pendayung campuran laki-laki dan perempuan ini disepakati dalam rapat dengan masing-masing pengurus tim sebelumnya. Tim Sambas protes karena merasa tidak diberitahu akan hal itu.
"Ya sudah, dibatalkan saja," kata Arbain, Pelatih Tim Dayung Sambas yang telanjur kecewa. Untunglah, pada akhirnya panitia mengambil suatu kebijakan. Tim Sambas diperkenankan "meminjam" lima orang pendayung perempuan dari warga lokal. Tim menerima kebijakan ini dan lalu mencari lima orang pendayung perempuan. Setelah hilir mudik cukup lama, didapatlah lima pendayung perempuan dari Kampung Panglima Seman Lama Petra Jaya, Kuching.
Dengan terpaksa, lima orang anggota tim yang telah dipersiapkan sejak awal harus digantikan dengan lima orang pendayung perempuan tersebut. Namun, semua bisa menerima keputusan ini karena dianggap lebih baik ketimbang harus gagal bertanding. Dayang Maimunah pun kembali meluncur ke garis start. Di sana, sudah bersedia antara lain Tim Dayung dari Brunei, Singapura, Dubai dan Malaysia.
Kemudian, perlombaan pun dimulai. Warga yang tumpah ruah di waterfront dan sepanjang Sungai Sarawak menjadi saksi, sejak start, Dayang Maimunah sudah mengungguli lawan-lawannya. Tepuk tangan dan teriakan-teriakan pemancing semangat terus mengiringi. Banyak pula warga lokal yang menjagokan Tim Sambas karena tahu tim ini adalah tim yang menjuarai lomba dayung internasional di Labuan beberapa waktu lalu. Belum lagi supporter dari kalangan TKI yang kebetulan libur pada hari itu.
Tim Dayung Sambas ini merupakan gabungan dari dua tim yaitu TODAK (Tim Olahraga Dayung Kelautan) dan Keruiz 1789. Kedua tim tersebut adalah unggulan di Kabupaten Sambas. Sementara itu, Dayang Maimunah masih terus memimpin tanpa mampu terkejar oleh yang lain. Terus terdepan hingga mencapai garis finish. Perahu itu seolah-olah telah menjadi raja sungai. Kesuksesan di Labuan kembali terulang. Nama Sambas, Kalbar dan Indonesia pun semerbak mewangi di mata dunia.
Pangeran Ratu H Winata Kesuma menyatakan sangat bersyukur akan hal ini. "Ini berkat kerja keras tim, doa serta dukungan semua pihak," katanya. Tim Dayung Sambas mendapat hadiah berupa trophy, piagam serta sejumlah uang tunai. Kegembiraan memuncak karena prestasi tertinggi telah berhasil direngkuh. Tim dari Dubai pun menyatakan salut dengan Tim Sambas. Mereka bahkan mengajak saling bertukar kostum. Kemenangan ini dinilai sebagai sebuah oleh-oleh yang paling berharga ketika tim pulang nanti.(bersambung)
Sambas di Sarawak Regatta 2006
Jadi Tamu Kehormatan Menteri dan Gubernur
Tim Dayung Sambas dalam Sarawak Regatta 2006
Ternyata, Sambas begitu spesial di mata pemerintah Malaysia, khususnya di Sarawak. Tim Dayung Sambas adalah satu-satunya tim dari Indonesia yang diundang untuk meramaikan Event Sarawak Regatta 2006. Tak hanya itu, kedatangan tim juga disambut dengan hormat oleh Menteri dan Gubernur (TYT Yang Dipertuan Negeri) Sarawak.
Laporan Uray Ronald, Kuching
Nuansa Perayaan Hari Kemerdekaan Malaysia sudah mulai terasa begitu Tim Dayung Sambas tiba di Tebedu, perbatasan Malaysia-Indonesia pada 31 Agustus 2006 lalu. Suasananya mirip dengan Perayaan Hari Kemerdekaan di Indonesia. Sepanjang jalan, tampak bendera Malaysia berkibar di depan rumah-rumah penduduk. Bedanya, di Sarawak ada dua bendera yang dikibarkan. Bendera Malaysia selalu disandingkan dengan bendera merah-kuning hitam milik Negara Bagian Sarawak.
Hanya saja, tidak semua rumah atau bangunan yang memasang bendera pada Hari Kemerdekaan. Ini karena di satu sisi Pemerintah Malaysia tidak mengharuskan dan di sisi lain, sebagian warga pun tampaknya tak terlalu memusingkan soal pemasangan bendera. Sangat berbeda dengan kondisi di Indonesia yang warganya begitu antusias menghiasi gapura, rumah, kerja bakti dan memasang bendera pada Peringatan Hari Kemerdekaan-nya.
Gapura hias, lomba panjat pinang dan panggung-panggung hiburan rakyat seperti di Indonesia tak terlihat di sepanjang perjalanan. Kemeriahan Hari Kemerdekaan Malaysia baru terasa begitu kental ketika tim tiba di Kuching. Sejumlah jalan utama diblokir polisi karena ada perbarisan (upacara bendera) yang dipimpin oleh Perdana Menteri Ahmad Badawi di Padang Merdeka. Hampir seluruh bangunan di pusat kota ini memasang bendera dengan ukuran ekstra besar. Di sini juga ada pawai kendaraan hias dan lain-lain.
Keesokannya, kemeriahan terasa semakin menggila karena Yang Dipertuan Agong Malaysia membuka Sarawak Regatta 2006. Event ini merupakan agenda wisata tahunan yang menampilkan aneka perlombaan di atas air seperti dayung kano, perahu kayak, jet ski, power boat dan lain-lain yang diikuti atlet dari berbagai negara termasuk dari Sambas, Kalbar, Indonesia.
Warga tumpah ruah di waterfront menyaksikan lomba babak penyisihan. Di tempat ini juga digelar pameran aneka jenis produk industri dan kerajinan Malaysia. Ada pula yang menggelar aneka permainan khusus anak-anak. “Ini salah satu produk pelancongan kita. Kita ingin menarik minat lebih banyak pelancong,” kata Yang Berhormat Menteri Muda Pembangunan Bandar dan Pelancongan Sarawak, Dato' Hamdin, ketika jamuan makan malam bersama Tim Dayung Sambas di Holiday Inn, malam harinya.
Tahun lalu, katanya, jumlah turis yang datang ke Sarawak mencapai 2,3 juta orang. Tahun ini, pihaknya menargetkan untuk menarik sebanyak 3,5 juta orang. Karena itu, atlet-atlet dari berbagai negara sengaja diundang guna menambah meriah lomba ini dan untuk promosi wisata. Ada atlet dari Singapura, Brunei Darussalam, Dubai, Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Inggris, Australia, Afrika Selatan, New Zealand hingga Bosnia.
Khusus Indonesia, pihaknya hanya mengundang Tim Dayung dari Sambas yang dikomandoi langsung oleh Sultan Sambas, Pangeran Ratu H Winata Kesuma. “Sambas adalah tetangga terdekat kita yang serumpun. Adat dan budaya kita tak berbeza sangat. Karena itu, kita selalu undang Sambas. Kedatangan Tim Sambas adalah suatu kehormatan bagi kita,” ujarnya. Tim Dayung Sambas yang berangkat kali ini adalah tim yang beberapa bulan lalu merajai lomba dayung internasional di Labuan.
Pangeran Ratu yang membawa 30-an atlet ini juga didampingi Ketua Lembaga Adat Melayu Serantau (LAMS) Kalbar, Abdi Nurkamil dan Ketua Yayasan Pesisir, Mul'am Husairi. Anggota DPRD Kalbar, Tobias Ranggie juga ikut dalam rombongan. Tak hanya Menteri Muda Pembangunan Bandar dan Pelancongan Sarawak yang memberikan pelayanan spesial terhadap Tim Dayung Sambas. Tuan Yang Terutama Yang DiPertua Negeri Sarawak Tun Datuk Patinggi Abang Haji Muhammad Salahudin juga mengundang seluruh tim ke Astana-nya guna menghadiri acara ramah tamah.
Bagi Tim Sambas, sambutan yang demikian merupakan pemacu semangat untuk menorehkan prestasi maksimal dalam ajang ini demi nama baik daerah dan bangsa. “Insya Allah, Tim Samba s akan menang. Kita mohon doa restu dari warga Sambas, Kalbar dan Indonesia,” kata Pangeran Ratu, kemarin. Hari ini, Minggu (2/9) Tim Dayung Sambas akan kembali berlaga, bersaing dengan atlet-atlet dari dunia internasional. (*)
Dimuat Pontianak Post, 4 September 2006
Menang Tetapi Nyaris Gagal Bertanding
Tim Dayung Sambas dalam Sarawak Regatta 2006
Dengan semangat membara, satu persatu anggota Tim Dayung Sambas menaiki perahu yang diberi nama Dayang Maimunah, kemarin siang. Tepuk tangan para official dan penggemar dari kalangan warga lokal terdengar mengiringi. Tak berapa lama, Dayang Maimunah sudah terlihat meluncur deras menuju garis start, bersiap untuk lomba.
Catatan Uray Ronald, Kuching
"Bagi tim dengan nombor flag empat, anda semua baru boleh ikut lumba kalau menyertakan lima orang pengayuh wanita dan lima belas orang pengayuh lelaki," suara dari mikrofon panitia tiba-tiba terdengar ketika Tim Dayung Sambas sudah bersiaga di garis start. Suara itu terdengar begitu mengejutkan.
Ekspresi kekecewaan seketika muncul di wajah seluruh anggota tim dan official, terlebih lagi Penanggung Jawab Tim, Pangeran Ratu H Winata Kesuma serta Ketua Tim, Mul'am Husairi. Betapa tidak, dalam undangan yang diterima Tim Sambas beberapa waktu lalu, sama sekali tak mencantumkan ketentuan tersebut. Akibatnya, anggota tim yang dibawa semuanya adalah laki-laki.
Resah dan gundah menyatu dalam hati para official karena keputusan panitia tadi bermakna bahwa Tim Sambas tak akan bisa bertanding karena tidak memenuhi syarat. Sedianya, hari itu Tim Sambas akan berlaga dalam Lomba Sampan Kategori Pelancong, Sarawak Regatta 2006 untuk sampan dengan 20 pendayung. Panjang trek dalam lomba ini yaitu sejauh 2,7 kilometer.
Dari kejauhan, Dayang Maimunah terlihat meluncur kembali ke pangkalan karena merasa "terusir" dari garis start. Menurut panitia, ketentuan pendayung campuran laki-laki dan perempuan ini disepakati dalam rapat dengan masing-masing pengurus tim sebelumnya. Tim Sambas protes karena merasa tidak diberitahu akan hal itu.
"Ya sudah, dibatalkan saja," kata Arbain, Pelatih Tim Dayung Sambas yang telanjur kecewa. Untunglah, pada akhirnya panitia mengambil suatu kebijakan. Tim Sambas diperkenankan "meminjam" lima orang pendayung perempuan dari warga lokal. Tim menerima kebijakan ini dan lalu mencari lima orang pendayung perempuan.
Setelah hilir mudik cukup lama, didapatlah lima pendayung perempuan dari Kampung Panglima Seman Lama Petra Jaya, Kuching. Dengan terpaksa, lima orang anggota tim yang telah dipersiapkan sejak awal harus digantikan dengan lima orang pendayung perempuan tersebut. Namun, semua bisa menerima keputusan ini karena dianggap lebih baik ketimbang harus gagal bertanding.
Dayang Maimunah pun kembali meluncur ke garis start. Di sana, sudah bersedia antara lain Tim Dayung dari Brunei, Singapura, Dubai dan Malaysia. Kemudian, perlombaan pun dimulai. Warga yang tumpah ruah di waterfront dan sepanjang Sungai Sarawak menjadi saksi, sejak start, Dayang Maimunah sudah mengungguli lawan-lawannya. Tepuk tangan dan teriakan-teriakan pemancing semangat terus mengiringi.
Banyak pula warga lokal yang menjagokan Tim Sambas karena tahu tim ini adalah tim yang menjuarai lomba dayung internasional di Labuan beberapa waktu lalu. Belum lagi supporter dari kalangan TKI yang kebetulan libur pada hari itu. Tim Dayung Sambas ini merupakan gabungan dari dua tim yaitu TODAK (Tim Olahraga Dayung Kelautan) dan Keruiz 1789. Kedua tim tersebut adalah unggulan di Kabupaten Sambas.
Sementara itu, Dayang Maimunah masih terus memimpin tanpa mampu terkejar oleh yang lain. Terus terdepan hingga mencapai garis finish. Perahu itu seolah-olah telah menjadi raja sungai. Kesuksesan di Labuan kembali terulang. Nama Sambas, Kalbar dan Indonesia pun semerbak mewangi di mata dunia. Pangeran Ratu H Winata Kesuma menyatakan sangat bersyukur akan hal ini. "Ini berkat kerja keras tim, doa serta dukungan semua pihak," katanya.
Tim Dayung Sambas mendapat hadiah berupa trophy, piagam serta sejumlah uang tunai. Kegembiraan memuncak karena prestasi tertinggi telah berhasil direngkuh. Tim dari Dubai pun menyatakan salut dengan Tim Sambas. Mereka bahkan mengajak saling bertukar kostum. Kemenangan ini dinilai sebagai sebuah oleh-oleh yang paling berharga ketika tim pulang nanti.





