Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 April 2009

Sejarah Alwatzikhoebillah Sambas

Sultan M Tsafiuddin II

Sejarah tentang asal usul kerajaan Sambas tidak bisa terlepas dari Kerajaan di Brunei Darussalam. Antara kedua kerajaan ini mempunyai kaitan persaudaraan yang sangat erat.Pada zaman dahulu, di Negeri Brunei Darussalam, bertahtalah seorang Raja yang bergelar Sri Paduka Sultan Muhammad.

Setelah beliau wafat, tahta kerajaan diserahkan kepada anak cucunya secara turun temurun. Sampailah pada keturunan yang ke sembilan yaitu Sultan Abdul Djalil Akbar.
Beliau mempunyai putra yang bernama sultan Raja Tengah. Raja tengah inilah yang telah datang ke Kerajaan Tanjungpura (Sukadana). Karena prilaku dan tata kramanya sesuai dengan keadaan sekitarnya, beliau disegani bahkan Raja Tanjungpura rela mengawinkan dengan anaknya bernama Ratu Surya. Dari perkawinan ini terlahirlah Raden Sulaiman.

Saat itu di Sambas memerintah seorang ratu keturunan Majapahit bernama Ratu Sepudak dengan pusat pemerintahannya di Kota Lama kecamatan Telok keramat skt 36 Km dari Kota Sambas. Baginda Ratu Sepudak dikaruniai dua orang putri. Yang sulung dikawinkan dengan kemenakan Ratu Sepudak bernama raden Prabu Kencana dan ditetapkan menjadi penggantinya. Ketika Ratu Sepudak memerintah, tibalah raja Tengah beserta rombongannya di Sambas. Kemudian banyak rakyat menjadi pengikutnya dan memeluk agama Islam.

Tak berapa lama, Ratu Sepudak wafat. Menantunya Raden Prabu Kencana naik tahtadan memerintah dengan gelar Ratu Anom Kesuma Yuda. Pada peristiwa bersamaan putri kedua Ratu Sepudak yang bernama Mas Ayu Bungsu kawin dengan Raden Sulaiman (Putera sulung Raja Tengah. Perkawinan ini dikaruniai seorang putera bernama Raden Boma. Dalam pemerintahan Ratu Anom Kesuma Yuda, diangkatlah pembantu-pembantu Administrasi kerajaan.

Adik kandungnya bernama Pangeran Mangkurat ditunjuk sebagai Wazir Utama. Bertugas khusus mengurus perbendaharaan raja, terkadang juga mewakili raja. Raden Sulaiman ditunjuk menjadi Wazir kedua yang khusus mengurus dalam dan luar negeri dan dibantu menteri-menteri dan petinggi lainnya. Rakyat lebih menghargai Raden Sulaiman daripada Pangeran Mangkurat, hingga menimbulkan rasa iri dihati Pangeran Mangkurat. suatu ketika tangan kanan Raden Sulaiman bernama Kyai Satia Bakti dibunuh pengikut Pangeran Mangkurat.

Setelah dilaporkan kepada raja, ternyata tak ada tindakan positif, suasana makin keruh. Raden Sulaiaman mengambil kebijaksanaan meninggalkan pusat kerajaan, menuju daerah baru dan mendirikan sebuah kota dengan nama Kota bangun. Jumlah pengikutnyapun makin banyak. Hal ini telah mengajak Petinggi Nagur, Bantilan dan Segerunding mengusulkan untuk berunding dengan Ratu Anom Kesuma Yuda.

Hasil mufakat keduanya meninggalkan kota lama. Raden Sulaiman menuju kota Bandir dan Ratu Anom Kesuma Yuda berangkat menuju sungai Selakau. Kemudian agak ke hulu dan mendirikan kota dengan ibukota pemerintahannya diberi nama Kota Balai Pinang.

Meninggalnya Ratu Anom Kesuma Yuda dan Pangeran Mangkurat, putera Ratu Anom yang bernama Raden Bekut diangkat menjadi raja dengan gelar Panembahan Kota Balai. Beliau beristrikan Mas Ayu Krontiko, puteri Pangeran Mangkurat. Raden Mas Dungun putera raden Bekut adalah Panembahan terakhir Kota Balai. Kerajaan ini berakhir karena utusan Raden Sulaiman menjemput mereka kembali ke Sambas.

Kurang lebih 3 tahun kemudian berdiam di Kota Bandir, atas hasil mufakat, berpindahlah mereka dan mendirikan pusat pemerintahannya di Lubuk Madung, pada persimpangan tiga sungai : sungai Sambas Kecil, Sungai Subah dan Sungai Teberau. Kota ini juga disebut orang " Muara Ulakan". Kemudian keraton kerajaan dibangun dan hingga kini masih berdiri megah.
Di tempat inilah raden sulaiman dinobatkan menjadi Sultan Pertama di kerajaan Sambas dengan gelar Sultan Muhammad Tsafiuddin I.

Saudara-saudaranya, Raden Badaruddin digelar pangeran Bendahara Sri Maharaja dan Raden Abdul Wahab di gelar Pangeran Tumenggung Jaya Kesuma. Raden Bima (anak Raden Sulaiman) ke Sukadana dan kawin dengan puteri raja Tanjungpura bernama Puteri Indra Kesuma (adik bungsu Sultan Zainuddin) dan dikaruniai seorang putera diberinama Raden Meliau, nama yang terambil dari nama sungai di Sukadana.

Setahun kemudian merka pamit ke hadapan Sultan Zaiuddin untuk pulang ke Sambas, oleh Raden Sulaiman dititahkan berangkat ke Negeri Brunai untuk menemui kaum keluarga. Sekembalinya dari Brunai, Raden Bima dinobatkan menjadi Sultan dengan gelar Sultan Muhammad Tadjuddin. Bersamaan dengan itu, Raden Akhmad putera Raden Abdu Wahab dilantik menjadi Pangeran Bendahara Sri Maharaja.

Wafatnya Sultan Muhammad Tadjuddin, pemerintahan dilanjutkan Puteranya Raden Meliau dengan gelar Sultan Umar Akamuddin I. Berkat bantuan permaisurinya bernama Utin Kemala bergelar Ratu Adil, pemerintahan berjalan lancar dan adil. Inilah sebabnya dalam sejarah Sambas terkenal dengan sebutan Marhum Adil, Utin Kemala adalah puteri dari Pangeran Dipa (seorang bangsawan kerajaan Landak) dengan Raden Ratna Dewi (puteri Sultan Muhammad Tsafiuddin I).

Wafatnya Sultan Umar Akamuddin I, Puteranya Raden Bungsu naik tahta dengan gelar Sultan Abubakar Kamaluddin. Kemudian diganti oleh Abubakar Tadjuddin I. Berganti pula dengan Raden Pasu yang lebih terkenal dengan nama Pangeran Anom. Setelah naik tahta beliau bergelar Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin I. Sebagai wakilnya diangkatlah Sultan Usman Kamaluddin dan Sultan Umar Akamuddin III.

Pangeran Anom dicatat sebagai tokoh yang sukar dicari tandingannya, penumpas perampok lanun. Setelah memerintah kira-kira 13 tahun (1828), Sultan Muhammad Ali Syafeiuddin I wafat. Puteranya Raden Ishak (Pangeran Ratu Nata Kesuma) baru berumur 6 tahun. Karena itu roda pemerintahan diwakilikan kepada Sultan Usman Kamaluddin.

Tanggal 11 Juli 1831, Sultan Usman Kamaluddin wafat, tahta kerajaan dilimpahkan kepada Sultan Umar Akamuddin III. Tanggal 5 Desember 1845 Sultan Umar Akamuddin III wafat, maka diangkatlah Putera Mahkota Raden Ishak dengan gelar Sultan Abu Bakar Tadjuddin II. Tanggal 17 Januari 1848 putera sulung beliau yang bernama Afifuddin ditetapkan sebagai putera Mahkota dengan gelar Pangeran Adipati.

Tahun 1855 Sultan Abubakar Tadjuddin II diasingkan ke Jawa oleh pemerintah Belanda (Kembali ke Sambas tahun 1879). Maka sebagai wakil ditunjuklah Raden Toko' (Pangeran Ratu Mangkunegara) dengan gelar Sultan Umar Kamaluddin. Pada tahun itu juga atas perintah Belanda, Pangeran Adipati diberangkatkan ke Jawa untuk studi.

Tahun 1861 Pangeran Adipati pulang ke Sambas dan diangkat menjadi Sultan Muda. Baru pada tanggal 16 Agustus 1866 beliau diangkat menjadi Sultan dengan gelar sultan Muhammad Tsafiuddin II. Beliau mempunyai dua orang istri. Dari istri pertama (Ratu Anom Kesumaningrat) dikaruniai seorang putera bernama Raden Ahmad dan diangkat sebagai putera Mahkota. Dari istri kedua (Encik Nana) dikaruniai juga seorang putera bernama Muhammad Aryadiningrat.

Sebelum manjabat sebagai raja, Putera Mahkota Raden Ahmad wafat mendahului ayahnya. Sebagai penggantinya ditunjuklah anaknya yaitu Muhammad Mulia Ibrahim. Pada saat Raden Ahmad wafat, Sultan Muhammad Tsafiuddin II telah berkuasa selama 56 tahun. Beliau merasa sudah lanjut usia, maka dinobatkan Raden Muhammad Aryadiningrat sebagai wakil raja dengan gelar Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin II.

Setelah memerintah kira-kira 4 tahun, beliau wafat. Roda pemerintahan diserahkan kepada Sultan Muhammad Mulia Ibrahim. Dan pada masa pemerintahan raja inilah, bangsa Jepang datang ke Sambas. Sultan Muhammad Mulia Ibrahim adalah salah seorang yang menjadi korban keganasan Jepang.

Read More...

Sabtu, 19 Juli 2008

MJ Mooridjan, Murid Ki Hajar Dewantara

Pernah Menghadiahi Lukisan, selalu Dipanggil “Si Yakin”

Beberapa hari lalu, tepatnya 2 Mei 2008, masyarakat Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Hari itu diperingati karena pada tanggal itulah lahir seorang pejuang besar Ki Hadjar Dewantara yang mendarmabaktikan seluruh hidupnya bagi kemajuan bangsa dan negara melalui bidang pendidikan. Di Kota Singkawang, ternyata masih ada satu orang yang pernah menjadi murid Ki Hajar Dewantara ketika belajar di Taman Siswa. Dialah MJ Mooridjan (75).

Uray Ronald, Singkawang

Nama MJ Mooridjan sepertinya sudah tidak terlalu asing di telinga warga Singkawang. Soalnya, MJ Mooridjan sudah empat puluh tahun tinggal di Kota Singkawang. Dia pernah menjadi guru seminari di Nyarumkop, menjadi Anggota DPRD Kabupaten Sambas tahun 70-an dan pada akhir 1990-an dari Partai Golkar. Namanya pun kerap muncul di media massa. Pria ini memang getol mengirimkan tulisan-tulisan yang membahas tentang pendidikan, kebudayaan dan permasalahan sosial masyarakat lainnya.

Selama hidupnya, pria yang dikaruniai enam anak ini memang mendarmabaktikan sebagian besar hidupnya bagi dunia pendidikan. Di samping menjadi guru, dia pun merupakan salah satu pendiri SMA Ignatius dan pernah berkiprah di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sambas. Selain itu, di masa pensiunnya, dia aktif mengarang dan menerbitkan buku. Kebanyakan bertemakan pendidikan, kebudayaan dan sejarah.

“Sudah 12 buku saya karang dan terbitkan,” katanya ketika ditemui di kediamannya, Jalan Diponegoro Gang Juang Nomor 18, kemarin siang. Dia tinggal di rumah sederhana itu bersama dengan seorang anak perempuannya. Tahun lalu, Mooridjan diundang oleh Taman Siswa di Yogyakarta untuk menghadiri reuni pada Hari Ulang Tahun Taman Siswa ke-85. “Waktu itu mantan siswa yang datang hanya delapan orang. Ada yang sudah pakai kursi roda dan ada yang hanya mengirimkan namanya. Sebagian besar memang sudah meninggal,” tuturnya.

Ketika disinggung mengenai Ki Hajar Dewantara alias Raden Mas Suwardi Suryaningrat, ingatannya melayang pada waktu puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, dia mengikuti sekolah guru di Taman Siswa yakni SGA atau Taman Guru tahun 1951. Ketika mengajar, menurutnya Ki Hajar selalu menggunakan sistem among. Mengajar sama dengan mengemong, yang dalam penjabarannya disemboyankan dengan Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Guru atau pamong harus dapat memberi dan menjadi contoh atau teladan, dapat memotivasi dan menjaga.

Guru atau pamong dalam Taman Siswa ibarat seorang tukang kebun yang menjaga tanamannya agar tidak dimakan hama. Tiap hari dengan cinta kasihnya sang tukang kebun merawat agar tumbuhan tumbuh baik tanpa memaksakan kehendaknya dengan kekerasan. “Ki Hajar mendidik muridnya seperti tukang kebun. Kalau ada penyakit atau keburukan, keburukan itu yang diambil. Tetapi beliau tidak memaksa. Kalau tomat, tetap menjadi tomat. Tidak dipaksa untuk menjadi yang lainnya,” jelas dia.

Mooridjan masih ingat, Ki Hajar pernah mengatakan, jika menjadi tukang kayu, jadilah tukang kayu yang ahli. Kalau menjadi pelukis, jadilah pelukis yang ahli. Jangan setengah-setengah. Ketika mengajar, Ki Hajar pun menurutnya selalu menekankan nilai-nilai nasionalisme, cinta tanah air dan idealisme. Jika menjadi tukang kayu, jadilah tukang kayu yang nasionalis. Di semua bidang, nasionalisme selalu di kedepankan.
Metode pengajaran yang diterapkan oleh Ki Hajar, kata Mooridjan, sangat memikat para murid.

Selalu diselingi dengan anekdot dan contoh-contoh yang sarat dengan makna filosofis. Semua yang diajarkan menurutnya bisa melekat di ingatan. Apa yang disampaikan menjadi sebuah pengetahuan abadi bagi si murid. Konsep-konsep pendidikan untuk menciptakan manusia Indonesia seutuhnya selalu diterapkan.

“Mengajar berarti memberikan ilmu pengetahuan, menuntun gerak pikir serta melatih kecakapan dan kepandaian agar anak menjadi manusia cerdas. Mendidik berarti menuntun tumbuhnya budi pekerti dalam hidup anak didik agar mereka menjadi manusia yang berkepribadian, beradab dan susila. Itulah konsep beliau. Sisi lahir dan batin harus diperhatikan,” ujarnya.

Kalau sekarang, kata Mooridjan, Ing Ngarso Sung Tulodo Ing Madyo Mangun Karso Tut Wuri Handayani sudah tidak lagi diterapkan. Pendidikan tidak lagi menciptakan manusia yang seutuhnya. Pendidikan hanya dinilai dari selembar ijazah. “Kalau sekarang, pamong atau pemimpin bicara tetapi kelakuannya lain dari yang diungkapkan. Tidak bisa dijadikan teladan. Kalau mereka menghimbau supaya hidup sederhana, malah merekalah yang hidup mewah,” katanya.

Ketika belajar, Mooridjan biasa dipanggil dengan nama “Yakin” oleh Ki Hajar. Hal ini karena ketika mengajukan suatu pertanyaan, dia selalu mengawalinya dengan kalimat “Tolong yakinkan saya…”. Tahun 1952, dia lulus dan mengajar di salah satu SMP di Salatiga Jawa Tengah. Selain mengajar, pria ini kemudian melanjutkan pendidikan dengan kuliah sore di Semarang untuk mendapatkan izin mengajar di SMA. Saat menjadi guru itulah, dia punya seorang siswa yang pandai melukis.

Mooridjan kemudian meminta agar siswanya itu melukis tiga orang yakni Ki Hajar Dewantara, Rabindranath Tagore, seorang tokoh pendidikan kelahiran Bengali yang menjadi sahabat Ki Hajar dan dia sendiri. “Lukisannya bagus dan sangat mirip. Dua lukisan itu kemudian saya berikan ke Ki Hajar dan lukisan saya sendiri saya simpan. Saya berharap dua lukisan itu bisa dipajang di pendopo,” ujarnya. Namun, sungguh tak disangka, Ki Hajar enggan memajang lukisannya. “Beliau hanya mau memasang lukisan Rabindranath”.

Ki Hajar berkata kepada Mooridjan, “Kin (Yakin)…, pasang lukisan saya kalau saya sudah mati saja. Jarak antara pahlawan dan pengkhianat itu hanya seujung rambut. Sekarang saya dipuja karena dianggap pahlawan. Mungkin saja sore nanti saya berbuat sesuatu sehingga besok harinya saya dibenci dan lukisan saya kamu robek-robek”. Kenangan itu membekas begitu dalam di benak Mooridjan. Bulir-bulir air mata pun mengalir di pipinya ketika dia bercerita.

Banyak hal yang masih diingatnya tentang Ki Hajar, konsep-konsep pemikiran dan sikap yang dicontohkan sampai pada anekdot-anekdot yang pernah disampaikan ketika mengajar. Sebagian dituangkan Mooridjan dalam buku yang dikarangnya. “Ing Ngarso Sung Tulodo itu hanya salah satu dari sekian banyak filosofi beliau,” ujarnya.
Sosok Ki Hajar menjadi sosok idola di depan Mooridjan sampai sekarang.

Pria yang pandai berbahasa Belanda ini pun berusaha mengikuti jejak sang guru. Dunia pendidikan begitu mendarahdaging di dirinya. Meski sudah pensiun, hingga saat ini dia terus berkiprah di bidang pendidikan dengan cara menjadi Anggota Dewan Pendidikan Kota Singkawang. (*)

Dimuat Pontianak Post Metro Singkawang, 3 Mei 2008

Read More...

Sabtu, 09 Februari 2008

Legenda Batu Belimbing


Dimuat Pontianak Post 27-9-2007

Legenda Batu Belimbing
Batu Raksasa Berasal dari Angkasa

Suatu malam, sekitar abad ke-13 sampai ke-14, sebuah bahtera terlihat meluncur deras di tengah Laut Cina Selatan. Bahtera itu konon ditumpangi oleh para bangsawan dari Kerajaan Majapahit berikut sejumlah pengawalnya. Para bangsawan ini ingin mendirikan sebuah kerajaan di pesisir Utara Kalimantan Barat (cikal bakal Kerajaan Sambas Pra Islam). Ombak terus mengalun dan akhirnya menghempas dinding bahtera. Perlahan tetapi pasti, mereka kian mendekati pantai.

Catatan Uray Ronald, Singkawang

Malam itu langit cerah, selaksa bintang bertaburan di angkasa. Rembulan pucat pun tak malu-malu menampakkan wajahnya. Keindahan alam begitu memukau seluruh penumpang bahtera. Mereka menjadi larut. Namun, suasana itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba, nun jauh di atas sana, seberkas cahaya menyilaukan terlihat melesat. Cahaya itu terus turun dengan kecepatan tinggi. Seluruh penumpang memandangnya tanpa berkedip sampai akhirnya cahaya itu mendarat di sebuah tempat di daratan dan menimbulkan ledakan.

Pemimpin rombongan kemudian memerintahkan agar bahtera segera berlabuh. Mereka penasaran dan ingin melihat langsung gerangan apa yang baru saja jatuh dari langit itu. Setelah sekian lama mencari, akhirnya mereka menemukan satu bongkahan batu berukuran sebesar rumah yang tergeletak di kaki bukit. Di sekitarnya tampak serpihan-serpihan batu yang berserakan. Sementara di puncak bukit itu, terlihat bekas-bekas benturan.

Para penumpang bahtera seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Mereka pun percaya, batu yang berasal dari luar angkasa itu tentu memiliki kekuatan supranatural yang tinggi cerminan kekuasaan Yang Maha Kuasa. Sejak saat itu, lokasi di mana batu tersebut berada, dijadikan sebagai tempat pemujaan. Mereka yakin, ada beberapa bidadari yang menjaga batu itu. Bahkan, setiap raja (Sambas Pra Islam) yang akan dinobatkan, terlebih dahulu harus bertapa di tempat tersebut selama beberapa waktu.

Konon, bukit itu adalah Bukit Poteng atau yang biasa disebut oleh masyarakat dengan nama Gunung Poteng yang letaknya di wilayah Kecamatan Singkawang Timur. Benturan oleh meteor tadilah yang mengakibatkan mengapa bentuk puncak Gunung Poteng menjadi seperti sekarang. Sementara, batu besar/meteor tadi adalah Batu Belimbing yang sampai saat ini masih bisa dilihat dan menjadi salah satu objek wisata di Kota Singkawang. Lokasinya berada di kaki Gunung Poteng, tepatnya di ujung sebuah gang di seberang Kantor Camat Singkawang Timur.

Warga setempat pun menamakan gang tersebut Gang Batu Belimbing. Batu ini tampak unik, karena bentuknya yang beralur-alur hasil pengikisan atmosfer. Atas alasan itulah mengapa batu ini disebut dengan nama Batu Belimbing. "Batu itu memang lain dengan jenis-jenis batu yang ada di bumi. Molekulnya berbeda. Silahkan undang pakar geologi untuk menelitinya. Di Amerika, ada juga batu yang seperti ini," ujar Mantan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Singkawang, Drs H Andi Irwandi, menutup ceritanya yang diperoleh dari berbagai sumber.(*)

Read More...